Teori & Teknik Konseling “pendekatan Gestalt”

By | May 27, 2022

M.A Subandi (Psikoterapi, hal.90-93) Salah satu pendekatan yang sangat memperhatikan kemampuan organisme buat berkembang & menentukan tujuannya adalah pendekatan Gestalt. Pendekatan gestalt lebih menekankan pada apa yg terjadi ketika ini-dan-pada sini, & proses yang berlangsung, bukan pada masa lalu ataupun masa depan. Yang krusial dalam pendekatan ini merupakan kesadaran saat ini dalam pengalaman seorang.Penemu psikoterapi Gestalt adalah Frederick (Fritz) Perls & mulai berkembang pada awal tahun 1950. Pendekatan Gestalt berfokus pada masa sekarang & itu pada butuhkan kesadaran waktu itu jua. Kesadaran ditandai sang hubungan, penginderaan, dan gairah. Kontak dapat terjadi tanpa pencerahan, tetapi kesadaran nir bisa dipisahkan menurut kontak.

Geralt Corey pada bukunya (Teori & Praktek Konseling & Psikoterapi, hal. 118) mengatakan bahwa terapi Gestalt yang dikembangkan oleh Frederick Perls merupakan bentuk terapi yang mengharuskan individu menemukan jalannya sendiri dan menerima tanggung jawab langsung jika mereka berharap mencapai kematangan.

Psikoterapi Gestalt menitikberatkan pada semua yang timbul dalam waktu ini. Pendekatan ini tidak memperhatikan masa lampau dan juga nir memperhatikan yang akan tiba. Jadi pendekatan Gestalt lebih menekankan pada proses yg terdapat selama terapi berlangsung.

Dalam kitabGeralt Corey menekankan konsep-konsep misalnya ekspansi kesadaran, penerimaan tanggung jawab eksklusif, urusan yg tak selesai, penghindaran,& menyadari ketika kini.

Bagi Perls, tidak ada yg “terdapat” kecuali “kini”. Lantaran masa lalu telah pulang dan masa depan belum terjadi,maka saat sekaranglah yang terpenting. Guna membantu klien untk menciptakan kontak menggunakan ketika sekarang, terapis lebih senang mengajukan pertanyaan-pertanyaan ”apa” dan “bagaimana” ketimbang “mengapa”, lantaran pertanyaan mengapa dapat menunjuk dalam pemikiran yg tak berkesudahan tentang masa lampau yang hanya akan membangkitkan penolakan terhadap ketika kini.

Konsep dasar pendekatan Gestalt adalah Kesadaran, & sasaran utama Gestalt adalah pencapaian kesadaran. Menurut buku M.A Subandi (psikoterapi, hal. 96) kesadaran mencakup:Kesadaran akan efektif bila berdasarkan pada & disemangati sang kebutuhan yg ada waktu ini yg dirasakan oleh individuKesadaran tidak komplit tanpa pengertian langsung tentang kenyataan suatu situasi & bagaimana seorang berada pada pada situasi tersebut.Kesadaran itu selalu ada pada sini-&-waktu ini. Kesadaran merupakan hasil penginderaan, bukan sesuatu yang mustahil terjadi.

Dalam kitabGeralt Corey (1995), pada terapi Gestalt terdapat jua konsep tentang urusan yang tak terselesaikan, yaitu mencakup perasaan-perasaan yg tidak terungkapkan seperti dendam, kemarahan, sakit hati, kecemasan rasa diabaikan & sebagainya. Meskipun tidak bisa diungkapkan, perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan ingatan dan fantasi eksklusif. Karena nir terungkap dalam pencerahan, perasaan itu tetap tinggal dan dibawa pada kehidupan sekarang yang menghambat hubungan yg efektif menggunakan dirinya sendiri dan orang lain. Dengan ini, pada harapkan klien akan dibawa kesadarannya dimasa kinidengan mencoba menyuruhnya balikkemasa lalu dan lalu klien disuruh buat mengungkapkan apa yang diinginkannya saat lalu sehingga perasaan yang tidak terselesaikan dulu sanggup dihadapi ketika ini.

B.     Tujuan Pendekatan Gestalt

Tujuan utama konseling Gestalt adalah membantu klien supaya berani mengahadapi berbagai macam tantangan juga fenomena yang harus dihadapi. Tujuan ini mengandung makna bahwa klien haruslah bisa berubah berdasarkan ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi percaya dalam diri, dapat berbuat lebih banyak buat meingkatkan kebermaknaan hidupnya.

Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh, melainkan baru memanfaatkan sebagaian dari potensinya yg dimilikinya. Melalui konseling konselor membantu klien agar potensi yg baru dimanfaatkan sebagian ini dimanfaatkan & dikembangkan secara optimal.

Secara lebih spesifik tujuan konseling Gestalt merupakan sebagai berikut.Membantu klien supaya bisa memperoleh kesadaran eksklusif, tahu kenyataan atau empiris.Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannyaMengentaskan klien menurut kondisinya yg tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be true to himself)

Meningkatkan kesadaran individual supaya klien bisa beringkah laris menurut prinsip-prinsip Gestalt, semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yg ada & selalu akan timbul dapat diatasi menggunakan baik.

C.    Asumsi Tingkah Laku Bermasalah

Menurut kompendium Gudnanto (Pendekatan Konseling, 2012). Individu bermasalah, karena terjadinya kontradiksi antara kekuatan “top dog” dan “under dog”. Top dog adalah posisi kuat yg menuntut, mangancam sedangkan under dog adalah keadaan membela diri, tidak berdaya & pasif. Individu bermasalah karena ketidakmampuan seorang dalam mengintegrasikan pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya karena disebabkan mengalami kesenjangan antara masa kini& masa yg akan datang.

D.    Model-contoh pendekatan Gestalt

D.1. Model Pola Hubungan Konselor menggunakan Konseli

M. A Subandi dalam bukunya (Psikoterapi, hal. 89), Hubungan antara konselor dan klien adalah sejajar yaitu interaksi antara klien & konselor itu adanya /melibatkan dialog dan interaksi

antara keduanya. Pengalaman – pengalaman pencerahan dan persepsi konselor merupakan inti berdasarkan proses konseling.

Menurut Gerald Corey pada bukunya (Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, hal. 132),  interaksi terapis dan klien dalam praktek terapi Gestalt yg efektif yaitu menggunakan melibatkan hubungan eksklusif-ke-eksklusif antara terapis dan klien. Pengalaman-pengalaman, pencerahan, & persepsi-persepsi terapis menjadi laatar belakang, ad interim kesadaran & reaksi-reaksi klien membentuk bagian muka proses terapi.

Menurut kompendium Gudnanto (Pendekatan Konseling, 2012). Dalam pendekatan teori Gestalt ini, peran konselor merupakan:Memfokuskan pada perasaan klien, pencerahan pada saat yg sedang berjalan, dan kendala terhadap pencerahan.Tugas terapis adalah menantang klien sehingga mereka mau memanfaatkan indera mereka sepenuhnya dan berhubungan dengan pesan-pesan tubuh mereka.Menaruh perhatian dalam bahasa tubuh klien, menjadi petunujk non lisan.Secara halus berkonfrontasi menggunakan klien guna untuk menolong mereka menjadi sadar akan dampak dari bahasa mereka.

D.3. Model Operasional/Strategi

Dalam buku yg pada baca penulis (M. A Subandi dalam bukunya Psikoterapi & Menurut Gerald Corey pada bukunya Teori & Praktek Konseling dan Psikoterapi) dapat pada simpulkan bahwa focus utama konseling merupakan bagaimana keadaan klien kiniserta kendala-kendala apa yg

timbul dalam kesadarannya. Tugas konselor adalah mendorong klien buat bisa melihat kenyataan yg terdapat pada dirinya & mau mencoba menghadapinya, klien sanggup diajak buat memilih 2 alternative, menolak kenyataan yg ada dalam dirinya atau membuka diri buat melihat apa yg sebenarnya terjadi dalam dirinya kini. Selain itu konselor diharapkan menghindari diri menurut pikiran-pikiran yg abstrak, harapan-keinginannya buat melakukan diagnosis, interpretasi, maupun memberi petuah .

Konselor semenjak awal sudah mengarahkan tujuan supaya klien menjadi matang maupun menyingkirkan kendala-kendala yang mengakibatkan klien nir bisa berdiri sendiri. Konselor membantu klien menghadapi transisi dari ketergantungannya terhadap factor luar sebagai percaya akan kekuatannya sendiri. Usaha ini dilakukan dengan menemukan dan membuka ketersesatan atau kebuntuan klien. Pada ketika klien mengalami ketersesatan dan klien menyatakan kekalahannya terhadap lingkungan dengan cara mengungkapkan kelemahannya, dirinya nir berdaya, kolot atau gila. Konselor membantu membuat perasaan klien buat bangkit & mau menghadapi ketersesatannya sehingga potensinya bisa berkembang lebih optimal.

D.4. Model Analisis dan Diagnosis Masalah

Dalam ringkasan Gudnanto (Pendekatan Konseling, 2012), contoh analisis & penaksiran masalah berdasarkan pendekatan Gestalt adalah:

1. Konselor menyebarkan rendezvous konseling, agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang dibutuhkan pada klien.

2. Konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan klien buat mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sinkron menggunakan syarat klien. Ada dua hal yang dilakukan konselor Teknik Konseling Individu yaitu, membangkitkan motivasi klien dan membangkitkan otonomi klien (menekankan bahwa klien boleh menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasan-alasannya adalah secara bertanggung jawab).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *